<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3164">
 <titleInfo>
  <title>Ubur-Ubur Lembur</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Raditya Dika</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta Selatan</placeTerm>
   <publisher>GagasMedia</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>viii, 232 halaman; 20 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ubur-Ubur Lembur adalah buku kumpulan cerita karya Raditya Dika atau Radit yang diluncurkan secara serentak pada tanggal 7 Februari 2018. Buku ini menceritakan pengalaman Raditya Dika hidup dari apa yang dicintainya.[1] Pada prakata buku tersebut, Radit menceritakan bahwa dari semua pekerjaan yang Ia jalani, menulis adalah pekerjaan yang paling Ia senangi.[1] Tetapi, seiring dengan kesibukannya di dunia hiburan, menulis menjadi sebuah kemewahan tersendiri bagi Radit. Sampai suatu ketika Ia bertemu seorang komedian dari Australia di acara Ubud Writers and Readers Festival.&#13;
Obrolan pada pertemuan tersebut cukup membekas bagi Raditya Dika saat Ia bertanya kepada komedian tersebut; mengapa Ia masih tetap menjadi komedian. Sang komedian menjawab kalau Ia tetap melakukannya karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Radit pun ingin bisa kembali menulis karena Ia sadar ada sesuatu yang penting dan ingin dia sampaikan. Seperti pada buku-bukunya yang lain, Raditya Dika selalu menyelipkan persoalan remeh-temeh yang menarik untuk ditertawakan.</note>
 <note type="statement of responsibility">Raditya Dika</note>
 <subject authority="">
  <topic>Fiksi Indonesia</topic>
 </subject>
 <classification>899.221</classification>
 <identifier type="isbn">9789797809157</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN PESANTREN AL-HAMIDIYAH Yayasan Islam Al-Hamidiyah</physicalLocation>
  <shelfLocator>899.221 RAD u</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">B00157</numerationAndChronology>
    <sublocation>Rak Koleksi MA - Mts</sublocation>
    <shelfLocator>899.221 RAD u</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>290.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3164</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-05-15 14:45:45</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-05-15 14:45:45</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>